Minggu, 08 September 2019

Keluar

ku tatap pintu
menunggu seseorang membukanya dan membawaku keluar

aku kesepian
hanya tertawa, menangis, dan meringkuk sendiri
percayalah ini bukan penjara
tapi aku
terpenjara...

aku ingin keluar kamar
mendengar mama memanggil
aku ingin keluar kamar
berbaring di muka televisi dan memeluknya

padahal dulu aku sering jadi  menjengkelkan dengannya
tapi ternyata mama adalah seseorang yang membuka pintu dan membawaku keluar menghirup udara kepenatan bersama
duduk di pojok dapur dan mengomel banyak hal
serigkali berujung rajukan
tapi tidak jarang kami jadi asik tentang sesuatu

mama sudah mati
jasadnya sudah tertanam
namanya masih terniang
wajahnya menjadi mimpi-mimpiku

lalu pintu itu tertutup
aku mau kabur
aku tidak punya alasan untuk keluar dan tidak lagi cukup kuat didalam
akhirnya sebuah petaka jadi rasa syukur dikit demi sedikit
aku jadi tokoh yang tidak tau diri dan lari

aku pulang, mak...

seekor semut yang sesak

seekor semut yang sesak

entah bagaimana aku bertahan selama ini
setelah aku pulang
aku  berfikir tentang itu
apakah saat ini aku bermimpi
ataukah masalalu itu hanyalah ilusi
tidak tau mana yang nyata

aku seperti seekor semut yang tersesat
bahkan ditumpukkan kaki lurus tanpa penghambat
ku fikir aku akan gila
sesegera mungkin otakku tidak memahami banyak hal
aku hanya ingin berjalan lurus menerima kenyataan
yang tidak selalu sesuai harapan
karena aku berbagi dunia dengan banyak hal
lebih dari sepasang mataku

dunia ini terlalu besar
atau mungkin aku yang terlalu spele?

Rabu, 04 September 2019

Selamat tidur luka

Selamat tidur untuk puisi puisi yang mati diladang duniawi
Selamat terpejam punjangga rasa yang sembunyi dibalik kata
Tidak ada lagi rumah
Jangan katakan pulang
Kuncinya sudah hilang
Jangan menyusuri jalan
Tapaknya buntu tak bertuan
Tidur saja di trotoar,
Di tenda-tenda pedagang,
Dalam karung,
Melompat hingga hilang akal
Lebih baik gila
Daripada terus mengenang luka.